Februari 06, 2015
batas manusiawi
Ada beberapa titik dimana manusia mencapai keterbatasan. Menyadari bahwa setiap individu hanya perlu kembali pada hakikatnya, menjadi diri sendiri. Tetapi penafsiran pada bentuk pencapaian tersebut tidak selalu pada hakikatnya. Bahkan Tuhan pun memberikan kuasa untuk memilih setiap tafsir yg diinginkan makhluknya. Bagaimana denganmu? Dengan segala tafsiran yang belum juga seperti yang kau inginkan. Hanya perlu waktu dan penantian. Ketidaksabaran memang selalu indah saat mengejarmu, tapi dialah pemicu. Berterima kasihlah pada keirian dan kedengkian, karena merekalah yang membuatmu sadar kembali di tahap mana kamu saat ini :-)
Januari 29, 2015
23 April
Untuk setiap
tatapan yang penuh kerinduan dalam kenangan, dengan hanya mengagumi ataupun
dikagumi. Ada batas di sana. Yang harus tak terlanggar untuk sebuah kemauan. Merasa
rendah, hina, dan beribu rasa kelemahan yang pernah ada. Menenangkannya dengan
kenangan. Ya kenangan.
Bahwa pernah
berada dalam dekapannya, peluknya. Pernah dirindukan bahkan merindukan. Pernah merasakan
ketulusan yang tak berarti untuk sekarang. Wahai Adam, kamu indah dan selalu
indah. Terus bersinar tanpa mengeluh dan merasa lelah saat berhadapan. Sekali saja.
Cukup untuk terlihat lemah dihadapan mata yang terlalu gelap. Mata yang terlalu
dalam bahkan untuk melihat. Cukup dengan merasakan dalam-dalam bahwa pernah di
suatu waktu bersama. Cumbu dan rayu. Yang cukup di ambang batasnya.
Menggebu-gebu
tak tertahan. Ingatlah dengan segala nada manja nan syahdu. Indah pada saatnya
bukan? Bentuk perhatian yang sebenarnya adalah kasih, satu hal yang tersadar
jauh setelah waktu membuat kenyataan. Dialah Adam.
Untuk pengingkaran
yang terjadi maka maafkanlah. Untuk segala yang terputuskan maka mengertilah. Untuk
semua kenangan yang pernah tercipta bersama maka berbahagialah.
Memastikan segala
bentuk kedamaian karena telah dipertemukan adalah satu-satunya jalan untuk
menjaga mimpi masing-masing tetap utuh. Segala bentuk pujian tiada sebanding
dengan doa yang menginginkan semata kebahagiaan. Senyum Adam.
Januari 12, 2015
apa waktu keterbatasan?
Masih selalu tenggelam dalam otak atik mata dan ekspresi membingungkan
Ini di suasana yang membuat sebagian orang frustasi dengan ketidakmampuan. Jauh, bahkan terlalu jauh menyimpang untuk menjadi sama. Tapi juga realitas.
Beralih pada waktu, yang mendebarkan hati lebih dari biasanya. Lalu mengoak-oak serasa ingin berbagi dan berkata "Rindu, aku bahagia"
Bertemu dengan fakta bahwa masalah utama adalah waktu yang semenanya, keterbatasan kebencian, luka, dan kasih adalah urusan yang terbatas sekaligus unlimited
Bayangkan jika semua hal itu sekenanya, pasti membosankan
Seperti angin yang mati dan tak pernah menjadi angin karena diam, terlebih memandang pertahanan dalam pertanyaan yang pasti yang sebenarnya memilih jawaban labil, akan lebih menyulitkan kebingungan untuk segera beranjak
Ini di suasana yang membuat sebagian orang frustasi dengan ketidakmampuan. Jauh, bahkan terlalu jauh menyimpang untuk menjadi sama. Tapi juga realitas.
Beralih pada waktu, yang mendebarkan hati lebih dari biasanya. Lalu mengoak-oak serasa ingin berbagi dan berkata "Rindu, aku bahagia"
Bertemu dengan fakta bahwa masalah utama adalah waktu yang semenanya, keterbatasan kebencian, luka, dan kasih adalah urusan yang terbatas sekaligus unlimited
Bayangkan jika semua hal itu sekenanya, pasti membosankan
Seperti angin yang mati dan tak pernah menjadi angin karena diam, terlebih memandang pertahanan dalam pertanyaan yang pasti yang sebenarnya memilih jawaban labil, akan lebih menyulitkan kebingungan untuk segera beranjak
Desember 06, 2014
( merindu )
Semauku dan semenaku
Jadi, kamu yang mengaku aku
berhak untuk semaunya dan semenanya
Bagaimana dengan sebuah tanda seru?
jika sudah lelah dengan tanya
maka berserulah
mampus sudah jika sudah terlambat
Hanya bisa berkedip-kedip dalam gelap
meraba permukaan tak rata: sejatinya
berhenti dan tak henti
menangis
sebenarnya merindu bukan?
berlarilah hingga lututmu menggelap
hinggap pada nuansa malam mencekam
tanpa kematian yang menyudahinya
Ah, ya sudah
Jadi, kamu yang mengaku aku
berhak untuk semaunya dan semenanya
Bagaimana dengan sebuah tanda seru?
jika sudah lelah dengan tanya
maka berserulah
mampus sudah jika sudah terlambat
Hanya bisa berkedip-kedip dalam gelap
meraba permukaan tak rata: sejatinya
berhenti dan tak henti
menangis
sebenarnya merindu bukan?
berlarilah hingga lututmu menggelap
hinggap pada nuansa malam mencekam
tanpa kematian yang menyudahinya
Ah, ya sudah
20, Thursday 2014
November 21, 2014
Again
Hal ini seperti menuliskan takdirmu dengan seksama
Tidak cacat dan tidak kurang satu apapun
Seperti sebuah pertempuran takdir antara aku dan tuhan
Dia selalu ingin membuatku kalah, tapi aku telah mati
Sedari dia menciptakanku, aku sudah tak tahu diri
Hidup bergulat dengan serpihan dan kepingan asumsi
Bahwa aku ini hanyalah manusia
Semakin bodoh dan bodoh lagi, duduk terheran lagi
Bergeleng-geleng karena keterlaluan
Aroma ini, aroma manusia normal, karbohidrat
Penuh energi namun tidak tergunakan dan hanya
Menjadi momok bagi kenormalan
Kejenuhan yang kutulis sendiri, senyum masam
LAGI...
Nafas keluhku, maaf
Walau sudah keberapa, aku takkan memaksa untuk bagian lain
LAGI...
Tidak cacat dan tidak kurang satu apapun
Seperti sebuah pertempuran takdir antara aku dan tuhan
Dia selalu ingin membuatku kalah, tapi aku telah mati
Sedari dia menciptakanku, aku sudah tak tahu diri
Hidup bergulat dengan serpihan dan kepingan asumsi
Bahwa aku ini hanyalah manusia
Semakin bodoh dan bodoh lagi, duduk terheran lagi
Bergeleng-geleng karena keterlaluan
Aroma ini, aroma manusia normal, karbohidrat
Penuh energi namun tidak tergunakan dan hanya
Menjadi momok bagi kenormalan
Kejenuhan yang kutulis sendiri, senyum masam
LAGI...
Nafas keluhku, maaf
Walau sudah keberapa, aku takkan memaksa untuk bagian lain
LAGI...
Langganan:
Postingan (Atom)