Hal ini seperti menuliskan takdirmu dengan seksama
Tidak cacat dan tidak kurang satu apapun
Seperti sebuah pertempuran takdir antara aku dan tuhan
Dia selalu ingin membuatku kalah, tapi aku telah mati
Sedari dia menciptakanku, aku sudah tak tahu diri
Hidup bergulat dengan serpihan dan kepingan asumsi
Bahwa aku ini hanyalah manusia
Semakin bodoh dan bodoh lagi, duduk terheran lagi
Bergeleng-geleng karena keterlaluan
Aroma ini, aroma manusia normal, karbohidrat
Penuh energi namun tidak tergunakan dan hanya
Menjadi momok bagi kenormalan
Kejenuhan yang kutulis sendiri, senyum masam
LAGI...
Nafas keluhku, maaf
Walau sudah keberapa, aku takkan memaksa untuk bagian lain
LAGI...
November 21, 2014
September 10, 2014
Ending tak berakhir
Nanti jika sudah di akhir cerita
Akhir dari kesengajaan
Ending ketidaksudianmu menatapku
Mata dan kelelahan ini akan terlihat pada seserpih tanda berupa partikel kecil-kecil
Bagaimana dengan 600 hari penyiksaan tak tersadar darimu yang begitu tulus itu
Nafas ini sudah mencoba berbaik dengan waktu
Berbenah pada hati yang redup
Tetapi bibir ini kembali mencibir
Di sebuah tempat yang sederhana akan kuberi kau kenangan kebodohanku
Tolol yang tumbuh perlahan dengan kesadaran
Tulisan ketidakmampuanmu, bukti kau pernah berkeliling di otakku, dan permen
Kuhimbau pada mata sepertimu untuk menunggu dan hadir pada cerita yang kubuat
Akhir dari kesengajaan
Ending ketidaksudianmu menatapku
Mata dan kelelahan ini akan terlihat pada seserpih tanda berupa partikel kecil-kecil
Bagaimana dengan 600 hari penyiksaan tak tersadar darimu yang begitu tulus itu
Nafas ini sudah mencoba berbaik dengan waktu
Berbenah pada hati yang redup
Tetapi bibir ini kembali mencibir
Di sebuah tempat yang sederhana akan kuberi kau kenangan kebodohanku
Tolol yang tumbuh perlahan dengan kesadaran
Tulisan ketidakmampuanmu, bukti kau pernah berkeliling di otakku, dan permen
Kuhimbau pada mata sepertimu untuk menunggu dan hadir pada cerita yang kubuat
Mei 23, 2014
spekulasi dini
Memulai dengan seteguk kecupan bahwa jantung pada otak ini akan
berhenti berdetak, berat dan menyakitkan
Rongga-rongga ini sadar pada konsekuen yang sedang dijalaninya
Kepedulian yang seiring dengan kesendirian membunuh satu per satu
pembuluh yang masih berjuang untuk menyebar
Demi sepucuk nafas yang kusebut tertatih, terjulurlah ujung jari untuk
meraih walau gagal
Menunduk dan menggeleng, masih mencari dan berdiam seperti batu
Kuat namun rapuh
Lalu apalagi yang akan menjadi alasan dimana kamu akan benar
Ini mutlak kesalahan, tak benar tapi masih berlaku padamu
Terlebih untuk yang menertawakan seonggok daging yang sudah setengah
jalan ini
Berputar-putar bak roller
coaster yang tak pernah tahu bagaimana untuk berhenti
Tertawalah angin dan hujan, ingin menyentuh? aku lebih memilih untuk
terkurung dalam beton tanpa ventilasi
Sesak, penat dan tanpa jeda
Mei 20, 2014
Semakin menjadi dengan kebodohan
Berulang-ulang
dengan ketukan senada dan membosankan, ini kebodohan yang semakin merajai
hingga akar-akarnya
Proses yang
perlahan dengan segaja berterimaan dan saling berkedip, membuatku tak bisa
memisahkan itu cinta atau kebodohan yang bercinta
Pasrah melihat
kebodohan itu menari-nari, seakan banyak mata filsuf yang menyeringai dengan
sinis
Aku bercumbu
dengan kebodohan yang kuciptakan sendiri dengan cinta atau kepenatan hidup
Aku dan
kebodohan saat ini sedang minum kopi dan bersantai
Aku sadar aku
terlihat lebih terbelakang dan idiot, tapi aku menikmatinya
April 13, 2014
mana kamu?
aku masih GH yang berhembus perlahan, tidak bisa merasakanmu sejenak. Dan aku buta arah.
dimana plang-plang yang kau pasang untuk memberi tahuku mana barat? mana tulisan besar-besar yang tulus sebagai bukti aku bisa membacanya.
aku hanya berputar-putar dan pingsan. aku bangkit dengan sisa kelelahanku. masih hanya menemukan padang gila. tidak juga kehilangan harapan meski kenyataannya kau meninggalkanku dengan indah. atau terlalu buruk.
iya, itu yang sedang ingin kutanyakan padamu apa sebenarnya aku. amnesiakah kamu yang membawaku ke jalan ini
aku mau untuk bangkit, tapi tidak untuk sakit
belum kuat, belum rekat,
konsep dunia yang kau ciptakan belum bisa kupahami
mana kanan? mana cahaya? aku sulit meraba, mati rasa
bunuh aku jika kau ingin, bunuh aku jika kupinta
jangan tunda segala hal hanya untuk menertawakan kisah yang ingin kau tulis dengan darah, karena aku lemah tanpa arah.
dimana plang-plang yang kau pasang untuk memberi tahuku mana barat? mana tulisan besar-besar yang tulus sebagai bukti aku bisa membacanya.
aku hanya berputar-putar dan pingsan. aku bangkit dengan sisa kelelahanku. masih hanya menemukan padang gila. tidak juga kehilangan harapan meski kenyataannya kau meninggalkanku dengan indah. atau terlalu buruk.
iya, itu yang sedang ingin kutanyakan padamu apa sebenarnya aku. amnesiakah kamu yang membawaku ke jalan ini
aku mau untuk bangkit, tapi tidak untuk sakit
belum kuat, belum rekat,
konsep dunia yang kau ciptakan belum bisa kupahami
mana kanan? mana cahaya? aku sulit meraba, mati rasa
bunuh aku jika kau ingin, bunuh aku jika kupinta
jangan tunda segala hal hanya untuk menertawakan kisah yang ingin kau tulis dengan darah, karena aku lemah tanpa arah.
Langganan:
Postingan (Atom)