/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-10/nat949.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-10/nat949.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */ Cute White Flying Butterfly expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Juni 05, 2015

Sesal dalam Penyesalan



Ada penyesalan yang tak harus disesali, sebab sesal selalu seperti semestinya. Hingga membuat sesal tidak pada tempatnya adalah nisbi. Tidak mungkin menjadikan penyesalan jauh dari etimologi sesal. Lihatlah sesal sekalipun tak enyah dari emosi dasar manusia. Menyatakan penyesalan adalah salah satu sesal yang membuat tanya ‘bagaimana tidak menyesal’. Seperti waktu, sesal semakin kuat dan menjadi-jadi berkembang. Mengalahkan kemampuan teknologi nano yang konon sangat ambisius. Menaklukan ketidakmampuan manusia. Hingga kini nano masih menjadi salah satu alasan keterbatasan. Bandingkan dengan sesal yang tanpa sarat membuat ketidakmampuan manusia nyata dalam sewaktu. Membuat keterbatasan yang niscaya terbungkus rapih menjadi lubang luka yang menganga. Tidak berdarah namun mematikan. Sesal yang menyesalkan. Menyebalkan dan menambah spesies baru pada tataran fobia. Peringatan yang logis untuk evolusi manusia. Agar menjadi pasti. Supaya terlepas dari luka yang tidak nyata. Gaib. Sejatinya musuh yang paling beresiko membunuhmu adalah musuh yang tak nyata. Sesal adalah gaib, musuh, fobia, dan penyakit yang beresiko memusnahkan keberadaan para humanist.

Mei 18, 2015

Jangan Tahan, ini Milikmu



Kamu menahannya, sehingga akan menambah sakit di bagian lain. Cobalah melepas, melega, meluapkan apa-apa yang harus terketahui langit dan bumi. Tidak risau jika itu memalukan, biarkan yang akan mencibir, menghina ataupun meludah. Terima dengan kemanusiaan, hal yang lumrah sekiranya jika itu ejekan. Tanda bahwa eksistensimu di dunia masih nyata. Dadamu sakit dengan terhenyak kuat? Tahan sebentar lalu muntahkan. Air asin yang harus kau alirkan agar tak selalu menjadi kematianmu. Kau akan melemah jika itu tak berhasil. Lihatlah, senja hujan dan fajar tak pernah menahannya. Mereka tak pernah lari sepertimu. Hadapilah, sekarang jangan nanti. Waktu nanti adalah waktu untuk yang lain. Sekarang adalah waktumu. Hanya milikmu.

April 09, 2015

Aurora



selamat datang semesta
dengan banyak nafas dan warna
sudut tepi berasa dari apa yang terasa

mereka menerima dengan apa-apa
tangis, tawa dan rindu di tengah pintu
bergulung gulat dengan angin
pelataran berubah berantakan
mematung dan menjadi sihir nikmat

penganugerahan murni
tanpa janji-janji bak politisi, mentari
hanya menengadah dan berserah
sebut saja semacam bagian indah

mata dengan mata
namun gelap dengan pekat
berdirilah tantang relungan warna rasa
tidak perlu takut dengan sinar yang terlalu terang
mereka hanya akan mendampingi dan menerangi
biarkan begitu saja
seperti ragam warna yang menyeluruh
pahami dengan tatap tajam kuat
mereka merekat-rekat

terpesona, ya?
Hanya warna dengan warna
dari spektrum satu ke yang lainnya
mereka membawa rasa satu ke yang lainnya
titipkan, pesankan



8 April '15
Alvi Innayah
(12/335262/SA/16725)

Maret 16, 2015

Manusia-manusia Beku



Manusia-manusia Beku
Alvi Innayah
(12/335262/SA/16725)

Jika tiba-tiba segalanya tentang konsep menyembul keluar satu demi satu tanpa tertahan, dari manusia yang seteguk penuh dengan tekanan, maka jaminan akan rasa muak telah merdeka. Hening. Sunyi. Sepi. Hanya ada kerumun-kerumun dengungan yang tak jelas. Mewakili rasa kepenatan yang senantiasa mencibir. Nyiyir. Tumpukan-tumpukan berwarna-warni itu sepertinya sudah menjadi wadah mati konsep-konsep gila yang hanya diam tak melawan. Merah, hijau, kuning atau bahkan absurd karena melawan waktu. Predikat “Absurd” itu sekiranya membuatnya lebih berharga. Walau harus paling lusuh. Biasanya yang lusuhlah yang paling banyak dicari. Dengan asumsi ada banyak harta karun pada segala hal dari waktu sebelum sekarang. Ada banyak keberhargaan pada tempat dengan banyak asumsi. Di sini. Di tempat beku dimana para manusianya sudah sedingin es. Beku. Membisu. Kamu akan hanya tersenyum getir jika menyadari bahwa sedari tadi tidak menemukan kebahagiaan pada pencarian. Tidak ada rasa yang membuat bahagia. Tidak ada logika untuk menimbang rasa. Hanya kematian.
Membayangkan jika saja kamu membuat ricuh, gaduh dan penuh hal konyol yang tidak penting, menunggu setiap ekspresi yang akan muncul pada wajah-wajah depresi yang tidak terprediksi. Ilusi. Senyatanya kamu hanya diam dan memenuhi telingamu dengan kegaduhan do re mi dari saluran favoritmu. Duduk di sudut tak terduga oleh manusia lain dan senantiasa bergelut dengan imaji logis ketidakwarasanmu. Setidaknya mereka berpikir untuk memilih tempat yang sewajarnya. Mereka tahu benar apa yang terlakukan. Mereka memiliki alasan yang berterima untuk merajai tempat ini. Untuk membuatnya menjadi sebuah poros keberlakuan hidup. Tidak sepertimu. Seperti alien tak bernyawa yang semenanya memilih tempat dan tanpa alasan. Sekenanya saja mengklaim tempat ini wilayahmu. Meja dengan luas delapan kali empat jengkal tanganmu. Meja ini milikmu. Selama kamu menganggapnya dan tak berkenan beranjak.
Beberapa senyap kemudian, ada sepasang mata absurd lainnya, lebih parah darimu dia memilih tempat sakral. Pojokan. Bayangkan keterkejutanmu berubah menjadi tawa aneh yang relatif. Yang lebih aneh lagi kamu bangga dengan tempat strategi itu. Luput dari para pendatang, aman dan sangat nyaman, begitupun wilayahmu, mereka yang tak peka takkan menemukanmu dengan mudah atau kamu yang keterlaluan memilih tempat sesukanya. Berpikir sajalah dulu. Sebenarnya apa keuntungan mengkritisi segala bentuk aktivitas yang wajar. Manusiawi. Seharusnya. Untuk memperoleh suatu bentuk kebenaran maka kamu hanya beralasan dengan menguji kemampuan analisa dan kepekaan yang terbatas. Sebelum kamu tidak dapat menganalisa dan kehilangan kepekaanmu. Mati. Alasan yang akurat. Tidak pernah untuk menjadi menang dari logikamu sendiri. Selalu menemukan alasan dalam tindak tandukmu yang cenderung memilih dan mirip orang tidur. Merasakan, mimpi dan mati. Hidup tapi sekarat. Jaminan seratus persen mereka yang dingin tak sadar dengan kegaduhan angin. Tapi kamu yang hidup sekarat akan memasuki fase baru nun lucu semacam pencapaian realita. Hidup. Bertaruh seluruh kemunafikan manusia, kegaduhan itu nyaman.
Meskipun upaya dengan segala macam senyuman untuk menggoda menjadi kaku, menertawai manusia-manusia beku dengan dan tanpa kesadaran mereka membuatmu lebih berada pada titik kenyamanan ekstra. Mungkin hingga mereka lelah kamu tertawakan atau kamu lelah menertawakan. Sebab tidak adanya kesaling-mengertian antara kamu dan mereka. Sadarlah. Pergi. Sebelum kamu hancur dengan tusukan-tusukan tajam nan beku. Kamu yakin jika itu terjadi kamu akan segera berubah seperti mereka. Menjadi mumi-mumi bodoh budak sistem. Atau kamu yang terlalu tidak tahu diri karena kebodohanmu. Kumohon segeralah enyah dari tempat pertapa sunyi ini. Perpustakaan ini.

Februari 06, 2015

batas manusiawi

Ada beberapa titik dimana manusia mencapai keterbatasan. Menyadari bahwa setiap individu hanya perlu kembali pada hakikatnya, menjadi diri sendiri. Tetapi penafsiran pada bentuk pencapaian tersebut tidak selalu pada hakikatnya. Bahkan Tuhan pun memberikan kuasa untuk memilih setiap tafsir yg diinginkan makhluknya. Bagaimana denganmu? Dengan segala tafsiran yang belum juga seperti yang kau inginkan. Hanya perlu waktu dan penantian. Ketidaksabaran memang selalu indah saat mengejarmu, tapi dialah pemicu. Berterima kasihlah pada keirian dan kedengkian, karena merekalah yang membuatmu sadar kembali di tahap mana kamu saat ini :-)

Cute White Flying Butterfly