Kamu
menahannya, sehingga akan menambah sakit di bagian lain. Cobalah melepas,
melega, meluapkan apa-apa yang harus terketahui langit dan bumi. Tidak risau
jika itu memalukan, biarkan yang akan mencibir, menghina ataupun meludah. Terima
dengan kemanusiaan, hal yang lumrah sekiranya jika itu ejekan. Tanda bahwa
eksistensimu di dunia masih nyata. Dadamu sakit dengan terhenyak kuat? Tahan sebentar
lalu muntahkan. Air asin yang harus kau alirkan agar tak selalu menjadi
kematianmu. Kau akan melemah jika itu tak berhasil. Lihatlah, senja hujan dan
fajar tak pernah menahannya. Mereka tak pernah lari sepertimu. Hadapilah,
sekarang jangan nanti. Waktu nanti adalah waktu untuk yang lain. Sekarang adalah
waktumu. Hanya milikmu.
Mei 18, 2015
April 09, 2015
Aurora
selamat
datang semesta
dengan
banyak nafas dan warna
sudut
tepi berasa dari apa yang terasa
mereka
menerima dengan apa-apa
tangis,
tawa dan rindu di tengah pintu
bergulung
gulat dengan angin
pelataran
berubah berantakan
mematung
dan menjadi sihir nikmat
penganugerahan
murni
tanpa
janji-janji bak politisi, mentari
hanya
menengadah dan berserah
sebut
saja semacam bagian indah
mata
dengan mata
namun
gelap dengan pekat
berdirilah
tantang relungan warna rasa
tidak
perlu takut dengan sinar yang terlalu terang
mereka
hanya akan mendampingi dan menerangi
biarkan
begitu saja
seperti
ragam warna yang menyeluruh
pahami
dengan tatap tajam kuat
mereka
merekat-rekat
terpesona,
ya?
Hanya
warna dengan warna
dari
spektrum satu ke yang lainnya
mereka
membawa rasa satu ke yang lainnya
titipkan,
pesankan
8
April '15
Alvi
Innayah
(12/335262/SA/16725)
Maret 16, 2015
Manusia-manusia Beku
Manusia-manusia Beku
Alvi Innayah
(12/335262/SA/16725)
Jika
tiba-tiba segalanya tentang konsep menyembul keluar satu demi satu tanpa
tertahan, dari manusia yang seteguk penuh dengan tekanan, maka jaminan akan
rasa muak telah merdeka. Hening. Sunyi. Sepi. Hanya ada kerumun-kerumun
dengungan yang tak jelas. Mewakili rasa kepenatan yang senantiasa mencibir.
Nyiyir. Tumpukan-tumpukan berwarna-warni itu sepertinya sudah menjadi wadah
mati konsep-konsep gila yang hanya diam tak melawan. Merah, hijau, kuning atau
bahkan absurd karena melawan waktu. Predikat “Absurd” itu sekiranya membuatnya
lebih berharga. Walau harus paling lusuh. Biasanya yang lusuhlah yang paling
banyak dicari. Dengan asumsi ada banyak harta karun pada segala hal dari waktu
sebelum sekarang. Ada banyak keberhargaan pada tempat dengan banyak asumsi. Di
sini. Di tempat beku dimana para manusianya sudah sedingin es. Beku. Membisu. Kamu
akan hanya tersenyum getir jika menyadari bahwa sedari tadi tidak menemukan
kebahagiaan pada pencarian. Tidak ada rasa yang membuat bahagia. Tidak ada
logika untuk menimbang rasa. Hanya kematian.
Membayangkan
jika saja kamu membuat ricuh, gaduh dan penuh hal konyol yang tidak penting,
menunggu setiap ekspresi yang akan muncul pada wajah-wajah depresi yang tidak
terprediksi. Ilusi. Senyatanya kamu hanya diam dan memenuhi telingamu dengan
kegaduhan do re mi dari saluran favoritmu. Duduk di sudut tak terduga oleh
manusia lain dan senantiasa bergelut dengan imaji logis ketidakwarasanmu.
Setidaknya mereka berpikir untuk memilih tempat yang sewajarnya. Mereka tahu
benar apa yang terlakukan. Mereka memiliki alasan yang berterima untuk merajai
tempat ini. Untuk membuatnya menjadi sebuah poros keberlakuan hidup. Tidak sepertimu.
Seperti alien tak bernyawa yang semenanya memilih tempat dan tanpa alasan.
Sekenanya saja mengklaim tempat ini wilayahmu. Meja dengan luas delapan kali
empat jengkal tanganmu. Meja ini milikmu. Selama kamu menganggapnya dan tak
berkenan beranjak.
Beberapa
senyap kemudian, ada sepasang mata absurd lainnya, lebih parah darimu dia
memilih tempat sakral. Pojokan. Bayangkan keterkejutanmu berubah menjadi tawa
aneh yang relatif. Yang lebih aneh lagi kamu bangga dengan tempat strategi itu.
Luput dari para pendatang, aman dan sangat nyaman, begitupun wilayahmu, mereka
yang tak peka takkan menemukanmu dengan mudah atau kamu yang keterlaluan
memilih tempat sesukanya. Berpikir sajalah dulu. Sebenarnya apa keuntungan
mengkritisi segala bentuk aktivitas yang wajar. Manusiawi. Seharusnya. Untuk
memperoleh suatu bentuk kebenaran maka kamu hanya beralasan dengan menguji
kemampuan analisa dan kepekaan yang terbatas. Sebelum kamu tidak dapat
menganalisa dan kehilangan kepekaanmu. Mati. Alasan yang akurat. Tidak pernah
untuk menjadi menang dari logikamu sendiri. Selalu menemukan alasan dalam
tindak tandukmu yang cenderung memilih dan mirip orang tidur. Merasakan, mimpi
dan mati. Hidup tapi sekarat. Jaminan seratus persen mereka yang dingin tak
sadar dengan kegaduhan angin. Tapi kamu yang hidup sekarat akan memasuki fase
baru nun lucu semacam pencapaian realita. Hidup. Bertaruh seluruh kemunafikan
manusia, kegaduhan itu nyaman.
Meskipun
upaya dengan segala macam senyuman untuk menggoda menjadi kaku, menertawai
manusia-manusia beku dengan dan tanpa kesadaran mereka membuatmu lebih berada
pada titik kenyamanan ekstra. Mungkin hingga mereka lelah kamu tertawakan atau
kamu lelah menertawakan. Sebab tidak adanya kesaling-mengertian antara kamu dan
mereka. Sadarlah. Pergi. Sebelum kamu hancur dengan tusukan-tusukan tajam nan
beku. Kamu yakin jika itu terjadi kamu akan segera berubah seperti mereka. Menjadi
mumi-mumi bodoh budak sistem. Atau kamu yang terlalu tidak tahu diri karena
kebodohanmu. Kumohon segeralah enyah dari tempat pertapa sunyi ini.
Perpustakaan ini.
Februari 06, 2015
batas manusiawi
Ada beberapa titik dimana manusia mencapai keterbatasan. Menyadari bahwa setiap individu hanya perlu kembali pada hakikatnya, menjadi diri sendiri. Tetapi penafsiran pada bentuk pencapaian tersebut tidak selalu pada hakikatnya. Bahkan Tuhan pun memberikan kuasa untuk memilih setiap tafsir yg diinginkan makhluknya. Bagaimana denganmu? Dengan segala tafsiran yang belum juga seperti yang kau inginkan. Hanya perlu waktu dan penantian. Ketidaksabaran memang selalu indah saat mengejarmu, tapi dialah pemicu. Berterima kasihlah pada keirian dan kedengkian, karena merekalah yang membuatmu sadar kembali di tahap mana kamu saat ini :-)
Januari 29, 2015
23 April
Untuk setiap
tatapan yang penuh kerinduan dalam kenangan, dengan hanya mengagumi ataupun
dikagumi. Ada batas di sana. Yang harus tak terlanggar untuk sebuah kemauan. Merasa
rendah, hina, dan beribu rasa kelemahan yang pernah ada. Menenangkannya dengan
kenangan. Ya kenangan.
Bahwa pernah
berada dalam dekapannya, peluknya. Pernah dirindukan bahkan merindukan. Pernah merasakan
ketulusan yang tak berarti untuk sekarang. Wahai Adam, kamu indah dan selalu
indah. Terus bersinar tanpa mengeluh dan merasa lelah saat berhadapan. Sekali saja.
Cukup untuk terlihat lemah dihadapan mata yang terlalu gelap. Mata yang terlalu
dalam bahkan untuk melihat. Cukup dengan merasakan dalam-dalam bahwa pernah di
suatu waktu bersama. Cumbu dan rayu. Yang cukup di ambang batasnya.
Menggebu-gebu
tak tertahan. Ingatlah dengan segala nada manja nan syahdu. Indah pada saatnya
bukan? Bentuk perhatian yang sebenarnya adalah kasih, satu hal yang tersadar
jauh setelah waktu membuat kenyataan. Dialah Adam.
Untuk pengingkaran
yang terjadi maka maafkanlah. Untuk segala yang terputuskan maka mengertilah. Untuk
semua kenangan yang pernah tercipta bersama maka berbahagialah.
Memastikan segala
bentuk kedamaian karena telah dipertemukan adalah satu-satunya jalan untuk
menjaga mimpi masing-masing tetap utuh. Segala bentuk pujian tiada sebanding
dengan doa yang menginginkan semata kebahagiaan. Senyum Adam.
Langganan:
Postingan (Atom)

